MAKALAH SEMANTIK - MAKNA -->

MAKALAH SEMANTIK - MAKNA

Moh Ridlwan



A.    Makna Leksikal dan Makna Grammatikal
Leksikal adalah bentuk ajektif yang diturunkan dari bentuk nomina leksikon. Satuan dari leksikon adalah leksem, yaitu satuan bentuk bahasa yang bermakna. Dapat pula dikatakan makna leksikal adalah makna yag sesuai dengan referennya, makna yang sesuai dengan observasi alat indra, atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita. Umpamanya kata tikus makna leksikalnya adalah sebangsa binatang penggerat yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit tifus. Makna ini tampak jelas dalam kalimat tikus itu mati diterkam kucing, atau panen kali ini gagal akibat serangan hama tikus. Kalimat tikus pada kedua kalimat itu jelas merujuk kepada binatang tikus , kata kuda memiliki makna leksikal  sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai; pinsil bermakna leksikal   sejenis alat tulis yang terbuat dari kayu dan arang; dan air bermakna leksikal  sejenis barang cair yang biasa digunakan untuk keperluan sehari-hari. Dari contoh di atas dapat disimpulkan bahwa makna leksikal dari suatu kata adalah gambaran yang nyata tentang suatu konsep seperti yang dilambangkan kata itu.
Bagaimana dengan kata kepala kantor dan kepala paku? Di sini kata kepala tidak bermakna leksikal, sebab tidak merujuk pada referen yang sebenarnya. Di sisni kata kepala digunakan secara metaforis, yakni mempersamakan atau memperbandingkan salah satu ciri makna kata kepala dengan yang ada pada kata kantor atau paku.
Makna gramatikal adalah makna yang hadir sebagai akibat adanya proses gramatikal seperti proses afiksasi, proses reduplikasi, dan proses komposisi. Makna gramatikat itu bermacam-macam.
Proses afiksasi awalan ter­- pada kata angkat dalam kalimat batu seberat itu terangkat juga oleh adik melahirkan makna dapat, proses prefiks ber- dalam kata sepeda melahirkan makna mengendearai. Untuk menyatakan makna jamak, bahasa Indonesia menggunakan proses reduplikasi seperti kata buku yang bermakna ‘sebuah buku’ menjadi buku-buku yang bermakna ‘banyak buku’. Sedangkan proses komposisi dalam bahasa Indonesia juga banya melahirkan makna gramtikal seperti komposisi sate ayam tidak sama dengan sate Madura. Yang pertama menytakan ‘asal bahan’ dan yang kedua menyatakan ‘asal tempat’.
B.     Makna Referensial Dan Nonreferesial
Perbedaan makna referensial dan nonreferensial berdasarkan ada tidaknya referen dari kata-kata itu. Bila kata itu mempunyai kata referen, yaitu suatu di luar bahasa yang diacu oleh kata itu maka kata tersebut disebut kata barmakna referensial. Kalau kata itu tidak mempunyai referen maka katu itu disebut kata bermakna nonreferensial. Kata meja dan kursi termasuk kata yang bermakna referensial karena keduanya mempunyai referen, yaitu sejenis perabot rumah tangga yang disebut “meja” dan “kursi”, kata  hitam, merah, dan kudar adalah termasuk kata-kata yang bermakna referensial karena  hitam, merah adalah jenis warna,  kuda  adalah sejenis hewan yang berkaki empat dan bisa dikendarai. Sebaliknya kata karena  dan tetapi tidak mempunyai referen. Jadi, kata  karena  dan tetapi termasuk kata yang bermakna nonreferesial.
Perlu dicatat adanya kata-kata yang referennya tidak tetap. Dapat berpindah dari satu rujukan kepada rujukan yang lain, atau juga dapat berubah ukuran lainnya. Kata-kata yang seperti ini disebut kata-kata deiktis. Misalnya kata ganti aku dan kamu. Kedua kata ini mempunyai rujukan yang berpindah-pindah, dari pesona satu ke pesona yang lain.
C.    Makna Denotatif Dan Konotatif
Makna denotasi pada dasarnya sama dengan makna referensial sebab makna denotatif ini lazim diberi penjelasan sebagai makna yang sesuai dengan hasil observasi menurut penglihatan, penciuman, pendengaran, perasaan, atau pengalaman lainnya. Jadi, makna denotatif ini menyangkut informasi-informasi faktual objektif. Karena itu makna denotasi sering disebut sebagai “makna sebenarnya” umpamanya kata perempuan dan wanita kedua kata ini mempunyai makna denotasi yang sama, yaitu manusia dewasa bukan laki-laki. Kata gadis dan perawan mempunyai makna denotasi yang sama, yaitu ‘wanita yang belum besuami’ atau ‘wanita yang belum disetubuhi’, Kata kurus bermakna denotatif “ keadaan tubuh seseorang yang lebih kecil dari ukuran yang normal.
Makna denotasi sering juga disebut makna dasar, makna asli, atau makna pusat; dan makna konotasi disebut makna tambahan. Pengguanaan makna tambahan untuk menyebut makna konotasi kiranya perlu dikoreksi; yakni hanya tambahan yang sifatnya memberi nilai rasa, baik positif maupun negatif. Upamanya,  kata babi bermakna denotatif  sejenis binatang yang biasa diternakan untuk dimanfaatkan dagingnya. Tetapi pada orang yang beragama Islam atau didalam masyarakat Islam babi mempunyai konotasi yang  negatif, ada rasa atau perasaan tidak enak bila mendengar kata itu.
Positif dan negatinya nilai rasa sebuah kata sering kali juga terjadi sebagai akibat dugunakannya referen kata itu sebagai sebuah perlambang. Jika digunakan sebagai lambang sesuatu yang positif makan akan bernilai positif; dan jika digunakannya suatu yang negatif makam akan bernilai negatif. Makna konotasi sebuah kata dapat berbeda dari suatu kelompok masyarakat yang satu dengan kelompok masyarakat yang lain, sesuai pandangan hidup dan norma-norma penilaian kelompok masyarakat tersebut.
D.    Makna Kata Dan Makna Istilah
Makna sebuah kata, walaupun secara singkronis tidak berubah, tetapi karena berbagai faktor dalam kehidupan, jadi bersifat umum. Makna itu menjadi jelas kalau sudah digunakan di dalam suatu kalimat. Kalau lepas dari konteks kalimat, makna kata itu menjadi umum dan kabur. Misalnya kata tahanan. Apa makna kata tahanan? Mungkin saja yang di maksud dengan tahanan itu orang yang ditahan, tetapi bisa juga hasil perbuatan menahan, umpamanya kata jatuh dalam  kalimat Adik jatuh dari sepeda. Jatuh bermakna jatuh, Dia jatuh dalam ujian yang lalu berarti bermakna gagal dalam ujian. Dia jatuh cinta pada adikku. Jatuh mempunyai perasaan suka,  Kalau harganya jatuh lagi, kita akan bangkrut. Jatuh bermakna turun.
Berbeda dengan kata yang maknanya  masih bersifat umum, maka istilah memiliki makna yang tetap dan pasti. Ketetapan dan kepastian  makna istilah itu hanya digunakan dalam bidang kegiatan atau keilmuan tertentu. Jadi, tanpa konteks kalimatnya pun makna istilah sudah pasti. Misalnya kata tahanan di atas. Sebagai kata, makna kata tahanan masih bersifat umum, tetapi sebagai istilah misalnya istilah dalam bidang hukum makna kata tahanan itu sudah pasti, yaitu orang yang ditahan sehubungan dengan suatu perkara.
Makna kata sebagai istilah memang dibuat setepat mungkin untuk menghindari kesalah pahaman dalam ilmu atau dalam bidang tertentu. Di luar bidang istilah sebenarnya dikenal juga adanya pembedaan kata dengan makna umum dan kata dengan makna khusus atau makna yang lebih terbatas. Kata dengan makna umum mempunyai pengertian dan pemakaian yang lebih luas, sedangkan kata dengan makna khusus atau makna terbatas pempunyai pengertian dan pemakaian yang lebih terbatas. Umpamanya dalam deretan sinonim besar, agung, akbar, raya, dan klosal; kata besar adalah kata yang bermakna umum dan pemakaiannya lebih luas daripada kata yang lainnya.
E.     Makna Konseptual Dan Makna Asosiatif
Leech (1976) membagi makna menjadi makna konseptual dan makna asosiatif. Yang dimaksud dengan makna konseptual adalah makna yang sesuai dengan konsepnya, makna yang sesuai dengan referennya, makna yang terlepas dari konteks atau asosiasi apapun. Jadi, makna konseptual sesungguhnya sama saja dengan makna leksikal, makna denotatif, dan makna referensial. misalnya, kata rumah memiliki makna konseptual bangunan tempat tinggal manusia’, Kata kuda memiliki makna konseptual “sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai.
Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan sesuatu yang berada di luar bahasa. Makna asosiatif ini sebenarnya sama dengan perlambangan yang digunakan oleh suatu masyarakat bahasa untuk menyatakan suatu konsep lain. Maka dengan demikian, dapat dikatakan melati  digunakan sebagai perlambang kesucian, kata kursi berasosiasi dengan kekuasaan, kata amplop berasosiasi dengan uang suap.
F.     Makna Idiomatikal Dan Peribahasa
Idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat ‘diramalkan’ dari makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal. Contohnya bentuk membanting tulang dengan makna ‘bekerja keras’, meja hijau dengan makna ‘pengadilan’, dan sudah beratap seng dengan makna ‘sudah tua’.
Idiom ada dua macam, yaitu:
1.      Idiom penuh
Idiom penuh adalah idiom yang semua unsur-unsurnya sudah melebur menjadi satu kesatuan, sehingga makna yang dimiliki berasal dari seluruh kesatuan itu. Contohnya meja hijau dan membanting tulang, kutu buku bermakna orang yang suka baca buku, naik pitam bermakna marah, kupu-kupu malam mempunyai makna pekerja seks komersial, cuci mata bermakna mencari hiburan, Main serong bermakna selingkuh, berpangku tangan  bermakna bermalas-malasan / tidak berbuat apa-apa, kambing hitam bermakna orang yang dituduh
2.      Idiom sebagian
Idiom sebagian adalah idiom yang salah satu unsurnya masih memiliki makna leksikalnya sendiri. Misalnya Pasar gelap bermakna Pasar yang digunakan untuk transaksi barang-barang illegal, Kepala dingin bermakna berpikir tenang, harga mati bermakna tidak bisa ditawar lagi, Naik darah bermkana emosi, kabar burung bermakna kabar belum pasti.
Berbeda dengan idiom, peribahasa memiliki  makna yang masih dapat di telusuri dan di lacak dari makna unsur-unsurnya karena adanya asosiasi antara makna asli dengan maknanya sebagai peribahasa. Umpamanya, peribahasa seperti anjing dengan  kucing yang bermakna ‘ dikatakan ihwal dua orang yang tidak pernah akur’. Makna ini memiliki asosiasi, bahwa binatang yang namanya anjing dan kucing jika bersua memang selalu berkelahi, tidak pernah damai, Bagai rumput mencari kuda yang bermakna perempuan mencari suami. 
G.    Makna Kias
Makna Kiasan adalah bahasa yang tidak merujuk pada arti yang sebenarnya. Jadi, bentuk-bentuk seperti putri malam dalam arti ‘bualan’, raja siang dalam arti matahari, berkepala dua bermakna perempuan sedang hamil, kupu-kupu malam bermakna  pelacur, kembang desa bermakna wanita tercantik yang  di suatu desa.
H.    Makna Lokusi, Ilokusi, dan Perlokusi
Dalam kajian tidak tutur (speech act) dikenal dengan adanya makna lokusi, makna Ilokusi dan makna perlokusi. Yang dimaksud dengan makna lokusi adalah makna seperti yang dinyatakan dalam ujaran, makna harfiah, atau makna apa adanya. Sedangkan yang dimaksud dengan makna ilokusi adalah makna seperti yang dipahami oleh pendengar, sebaliknya, yang dimaksud dengan makna perlokusi adlah makna seperti yang diinginkan oleh penutur. Misalnya, kalau seorang kepada tukang adruk foto di pinggir jalan bertanya,
“Bang, tiga kali empat, berapa?”
Maka secara lokusi kalimat tersebut adalah keinginan tahu dari si penutur tentang berapa tiga kali empat. Namun, makna perlokusi adalah bahwa si penutur ingin tahu berapa biaya mencetak foto ukuran tiga kali empat sentimeter.
Daftar Pustaka
Chaer. Abdul. 2013. Pengantar Smantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rinika Cipta