Bangkalan Menuju Surabaya Kedua

IG & Twitter: mohridlwann

Siapa yang tidak ingin berkunjung ke Surabaya? Atau siapa yang tidak ingin mendapat pekerjaan di Surabaya? Rasanya mustahil bagi masyarakat Jawa Timur jauh dari keinginan-keinginan tersebut. Sebab, lapangan pekerjaan dan UMR Surabaya sungguh menggiurkan. 

Berkaca pada Surabaya yang maju di segala sektor kemudian membandingkan dengan Kabupaten Bangkalan akan muncul keanehan-keanehan yang seharusnya tidak terjadi. Mata kita akan dihadapkan pada dua pandangan, yaitu antara langit dan bumi. Dari ini, penulis sering timbul pertanyaa, kenapa Bangkalan sangat tertinggal?

Pertanyaan ini sukar untuk dijawab. Maka saya bandingkan kabupaten-kabupaten yang bersebelahan dengan Surabaya, misal Sidoarjo dan Gresik. Kedua kabupaten tersebut sangat maju dan letak geografisnya sama-sama bersebelahan seperti Bangkalan dan Surabaya. 

Lantas, apa yang membedakan kedua kabupaten tersebut dengan Bangkalan yang secara geografis sama-sama bersebelahan dengan Surabaya? Jawaban sementara Bangkalan dipisah oleh Suramadu.

Sebelas tahun Suramadu telah menjadi penghubung Surabaya-Madura, tapi pembangunan di Bangkalan belum pernah tersentuh pemerintah daerah, provinsi, maupun pusat. Maka tidak heran jika Bangkalan selalu nyaman berada di zona 3T.

Kegelisahan di atas mungkin saja segera berakhir. Sebab, sebentar lagi Bangkalan akan menjadi kota metropolitan atau Surabaya kedua. Hal ini didasari oleh PERPRES No. 80 tahun 2019 tentang percepatan pembangunan yang salah satunya pembangunan di Bangkalan.

Sekarang, saya sedikit tersenyum. PERPRES no. 80 2019 ini akan sangat berdampak untuk Bangkalan terutama dalam infrastruktur jalan. Disadari atau tidak, infrastruktur jalan merupakan bagian utama dalam kemajuan sebuah daerah. 

Dukungan infrastruktur jalan yang baik akan lebih mudah mengembangkan perekonomian di daerah. Infrastruktur jalan yang baik, investor akan berdatangan ke Bangkalan dan akan banyak industri berdiri. Hal ini bukan tanpa sebab,  karena Surabaya yang saat ini hampir tidak ada lahan kosong lagi untuk dibangun perusahaan. Dengan demikiam, pengusaha akan berbondong-bondong datang dan membangun perusahaan di Bangkalan. Semakin banyak perusahaan berdiri, maka akan berdampak berkurangnya pengangguran di Bangkalan. Dengan catatan, SDM masyarakatnya betul-betul disiapkan.

Percepatan pembangunan yang tertuang di PERPRES no. 80 tahun 2019 di antaranya pembangunan pelabuhan peti kemas di desa Sebilangan Socah. Adanya pelabuhan ini akan membuat Bangkalan lebih mandiri—juga membuat investor lebih tertarik membangun Bangkalan.

Ada hal menarik dalam PERPRES no. 80 tahun 2019. Ialah pembangunan Indonesia Islamic Science Park di kaki Suramadu. Dalam konsepnya, di tempat tersebut akan dibangun museum Islam terbesar di Indonesia. Selain itu, juga taman edukasi dan wahana permainan.

Hadirnya Indonesia Islamic Science Park akan menjadikan Bangkalan lebih dikenal oleh luar Madura. Karena akan banyak wisatawan berkunjung dari dalam Negeri maupun dari Panca Negara. Hal ini akan meningkatkan perekonomian khususnya untuk masyarakat Bangkalan.

Selain faktor PERPRES, salah satu alasan Bangkalan akan menjadi Surabaya kedua adalah faktor geografis. Kita tahu Bangkalan dan Surabaya hanya dipisah oleh jembatan sepanjang 5438 meter atau kurang lebih lima kilo. Kedekatan geografis menjadi nilai lebih untuk Bangkalan dan masyarakatnya. 

Jika pembangunan infrastruktur jalan, industri, pelabuhan peti kemas, dan Indonesia Islamic Science Park selesai dibangun, tidak ada alasan lagi Bangkalan tertinggal. Bangkalan harus menjadi kota Metropolitan seperti Surabaya yang membuat warganya lebih mudah mendapatkan pekerjaan. Jika Bangkalan masih stagnan seperti sekarang, yang patut kita salahkan adalah pemerintah Bangkalan.

Sekarang, kita harus persiapkan diri masing-masing. Jika tidak, kita akan menjadi penonton setia Bangkalan ke depannya dan menjadi babu di rumah sendiri.

Jogja, 20 Februai 2020

1 Comments

  1. Kalau menurut saya tergantung SDM di sana si, mau maju atau tidak.

    Untuk prokes sj mereka abai, karep dhewek.

    Tinggal liat apakah di sana bisa menarik iklim investasi. Di sana bisa taat dan tertib sj sudah bagus sih. Karena kebanyakan kita semua tau, ngeyelannya seperti apa SDM di sana.

    Mudah²n bisa lebih baik, harapan bersama. Amin.

    ReplyDelete
Previous Post Next Post