Membaca Gerakan Islam Ekstremis di Indonesia -->

Membaca Gerakan Islam Ekstremis di Indonesia

Moh Ridlwan

Canva Ilsutrasi

Dua hari lalu, 9 Agustus 2021, saya menonton sebuah cuplikan podcast Rafly Harun di akun instagram Islah Bahrawi. Di podcast tersebut, Felix Siauw meyakinkan semua orang agar menegakkan khilafah di Indonesia karena merupakan ajaran Islam. 


Mendengar pernyataan ini membuat saya senyum-senyum dan nyelekit. Kemudain timbul sebuah pertanyaan, sejak kapan Islam mewajibkan pemeluknya untuk menegakkan sistem politik khilafah?


Hadirnya Felix Siuaw dan seidologinya telah mencirikan Islam sebagai kelompok ekstremis di Indonesia bahkan di dunia Internasional. Hal ini tidak lepas dari sejarah kelam mereka yang selalu berafiliasi dengan kelompok seperti HTI, ISIS, dll., dengan menyokong ideologi khilafah.


Di indonesia, antara tahun 1950 dan 1966, gerakan Daru al-Islam di Aceh melakukan gerakan untuk mendirikan negara Islam.  Selain itu, beberapa teroris ditangkap pada awal 1980-an dan sekitar 3.000 Mujahidin Indonesia juga ambil bagian dalam pertempuran di Afghanistan melawan Soviet.  


Puncaknya, awa-awal Reformasi atau sekitar tahun 1998, Islam ektremis menampakkan sayapnya dengan mendirikan organisasi-organisasi. Gerakan ini tidak terlepas setelah Presiden Habibie mencabut peraturan tentang indoktrinasi asas tunggal Pancasila, membawa angin segar bagi kembalinya gerakan serupa meskipun dengan format yang berbeda. 


Mengutif penelitian Abdullah berjudul Radikalisme Islam di Kalangan Mahasiswa, tahun 2011, menjelaskan bahwa di tahun 1998-an kemunculan organisasi Islam seperti jamur di musim hujan, misalnya FPI (Front Pembela Islam), MMI (Majelis Mujahidin Indonesia), Laskar Jihad, FKAWJ (Forum Komunikasi Ahlu Sunnah wa al-jama’ah), HTI (Hizbut Tahrir Indonesia), FPIS (Front Pemuda Islam Surakarta), Hizbullah Sunan Bonang, Laskar Jundullah, dan lain sebagainya. 


Pada tahun 2001, upaya untuk memberlakukan hukum syariah terhadap umat Islam dan mencoba memasukkannya ke dalam konstitusi, namun upaya ini gagal terlaksana setelah ditolak Parlemen dengan 81 persen suara. Selain itu, penolakan terus berdatangan dari masyarakat yang hampir 220 juta warga Indonesia ikut berdiri melawan ekstremisme tersebut.  


Upaya mereka tidak sampai di situ, mereka bergerak semakin masif dan merekrut orang-orang dari tingkatan paling bawah. Ideologinya menyebar semakin masif melalui pendidikan di organisasi, kampanya khilafah semakin meluas terutama di kalangan mahasiswa di kampus negeri. 


Mereka yang minim dengan ajaran Islam tergiur dan secara perlahan menampakkan ketidaksukaannya pada non golongannya, mereka mencoba menggurui orang-orang yang secara keilmuannya jauh dari dirinya. Mereka menyalahkan orang-orang di luar golongannya. Akibatnya, Islam ekstremis semakin mengkhawatirkan.


Gerakan Islam ekstremis ini lebih banyak menyasar ke kampus-kampus terutama kampus negeri dikarenakan organisasi Islam transnasional tidak begitu peduli terhadap kampusnya. Misal, PMII dan HMI lebih sibuk terhadap urusan politik kampus dibanding menngisi dakwah di masjid-masjid kampus. Ketidakpedulian ini adalah kesalahan terbesar HMI dan PMII karena kelompok HTI Syalafi, dll., lebih mudah menyebarkan ideologinya.


Saat ini, kampus negeri tercatat berada di garis terdepan yang mendominasi Islam ekstremis. Hal itu diungkapkan Halili melalui hasil penelitian bertajuk Wacana dan Gerakan Keagamaan di Kalangan Mahasiswa: Memetakan Ancaman atas Negara Pancasila di PTN.  


Halili menyebutkan bahwa selama Februari sampai April 2019 terhadap 10 PTN di Indonesia ditemukan masih banyak wacana dan gerakan keagamaan yang bersifat eksklusifitas.


Kesepuluh PTN yang terpapar radikalisme keagamaan itu ialah:

1. Universitas Indonesia

2. Universitas Islam Negeri Syarief Hidayatullah

3. Institut Teknologi Bandung

4. Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

5. Institut Pertanian Bogor

6. Universitas Gadjah Mada

7. Universitas Negeri Yogyakarta

8. Universitas Brawijaya

9. Universitas Airlangga

10. Universitas Mataram


Melihat gerakan di atas, maka tidak mengherankan, misalnya, Felix Siauw mendengungkan khilafah sebagai satu-satunya tujuan hidup meskipun di Islam sendiri tidak ada. Ketika melihat lebih jauh, kelompok ekstremis ini sering berbohong atas nama Islam, mengkafirkan  kelompok lain, dan membenarkan kelompoknya sendiri meskipun salah.  


Jika menjumpai kelompok yang sering mengkafirkan, berdusta, dll., kemungkinan mereka bagian dari Islam ekstremis.