Tema-Tema Drama Sastrawan Bangkalan -->

Tema-Tema Drama Sastrawan Bangkalan

Moh Ridlwan

Sastra Indonesia dibagi ke sastra nasional dan sastra lokal. Pembagian tersebut telah membuat sastra sastrawan lokal terpinggirkan atau dianggap tidak penting dibanding sastrawan nasional. Sebab, perkembangan sastra di Indonesia selalu berkiblat pada sastra yang berkembang secara nasional.

Sebenarnya, baik sastra lokal maupun sastra nasional merupakan representasi dari pemikiran penulis yang dipengaruhi oleh lingkungan sosial budaya sekitar. Oleh karena itu, baik sastra yang berkembang di lokal maupun di nasional adalah sama pentingnya dalam perkembangan sastra Indonesia sehingga keduanya juga dianggap layak dijadikan kajian akademik di dalam kampus dan di luar kampus. 

Penelitian ini adalah penelitian sejarah sastra. Pendekatan ini mencoba melihat karya sastra dari perkembangannya serta mengkritisi karya sastra yang dihasilkan. Ruang lingkup penelitian ini berfokus pada gerakan sastra yang berkembang di lokal kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur. 

Dalam aspek kesejarahan, penelitian ini harus membuat klasifikasi sastra dengan mengelompokkan sastrawan-sastrawan ke dalam periode, angkatan, maupun generasi.

Dasar klasifikasi dalam penelitian ini adala biografi. Sebab, untuk melihat perkembangan sejarah sastra dalam kurun waktu tertentu harus melihat biografi sastrawan pada masa tersebut. Oleh karenanya, menelusuri jejak sastrawan biografi sastrawan sangat penting untuk melihat kesamaan ideologi dan tempat sastrawan berproses. 

Ada enam faktor yang dijadikan klasifikasi dalam penelitian ini, pertama, tradisi; kedua, minat ideologis; ketiga, syarat-syarat estetis penulisan sebuah sejarah sastra; keempat, Pernyataan sastrawan-sastrawan dan rekan sejaman tentang kesamaan minat dan penolakan; kelima, persamaan yang diamati oleh sejarawan sastra antara pengarang dengan pengarang atau teks dengan teks; keenam, kebutuhan karir profesional dan politik kekuasaan dalam institusi. Dari enam faktor tersebut, hanya poin keenam yang tidak dimasukkan dalam penelitian ini. 

Klasifikasi sastra drama Bangkalan dibagi empat generasi, yaitu generasi pertama, generasi kedua, generasi ketiga, dan generasi keempat. Keempat generasi tersebut sesuai dengan poin-poin klasifikasi sastra yang ada pada konteks Bangkalan. Misal, point “tradisi” dari guru ke murid yang tergabung dalam satu komunitas. Juga “kesamaan ideologi” dan “persamaan minat antar sastrawan dalam sezaman” adalah kondisi sastrawan drama Kabupaten Bangkalan. 

Untuk mengetahui poin-poin di atas terhadap sastrawan dengan melihat biografinya. Hal tersebut dikarenakan dalam penelitian sejarah sastra, biografi sastrawan menjadi pembahasan utama dalam menentukan klasifikasi sastra. 

Sastrawan drama generasi pertama adalah Syarifuddin Dea. Perjalanan Syarifuddin Dea dalam kesusastraan Bangkalan mendirikan Komunitas Lingkar Sastra Junok tahun 1998. Selain itu, Syarifuddin Dea pernah menjabat ketua Dewan Kesenian Bangkalan dalam periode 2002-2007. 

Tema drama yang diangkat oleh Syarifuddin Dea bertema sosial dan patriotisme. Kecenderungan tema sosial dan patriotisme dimungkinkan akibat gejolak politik pada tahun 60-an yang saat itu Syarifuddin Dea berumur sekitar dua puluh tahunan. 

Sastrawan generasi kedua adalah Suro Wahono, M. Helmy Prasetya, dan R. Timur Budi Raja. Ketiga sastrawan drama tersebut tergabung dalam satu komunitas, yaitu Komunitas Seni Tera’ Bulan pada tahun 2002. Komunitas tersebut didirikan untuk melawan sastrawan senior, baik dari segi gerakan dan ide-idenya. Hal ini dibuktikan dengan didirikannya Dewan Kesenian Bangkalan Partikelir (DKBP). 

Kiprah sastrawan drama, Suro Wahono, dalam gerakan kesusastraan Bangkalan membawa teater luar kampus ke dalam kampus, sehingga banyak sastrawan lahir dari kampus terutama di kampus STKIP PGRI Bangkalan dengan didirikannya Teater 2. 

M. Helmy Prasetya, salah satu murid Suro Wahono di Sanggar Mutiara SMA Negeri 3 Bangkalan, sangat berperan penting dalam memajukan sastra di Bangkalan. Selama dedikasinya, ia telah mencetak sastrawan-sastrawan drama generasi selanjutnya dari komunitas yang didirikan, yaitu Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan. 

R. Timur Budi Raja adalah putra dari sastrawan generasi pertama, yaitu Syarifuddin Dea. Dedikasinya untuk kesusastraan Bangkalan, R Timur Budi Raja telah mendirikan Teater Nanggala Universitas Trunojoyo Madura, tahun 2000 dan mendirikan Komunitas Arus Bawah, tahun 2016. Kecenderungan tema-tema yang diangkat oleh sastrawan generasi kedua beraliran romantisme, seperti hujan, senja, bulan, matahari, dan sebagainya. 

Kecenderungan tema yang diangkat oleh sastrawan drama generasi ketiga berbeda dari generasi kedua. Meskipun sebagian besar sastrawan drama generasi ketiga adalah murid dari sastrawan generasi kedua, tema-tema yang diangkat mengarah pada tema-tema sosial. 

Sastrawan-sastrawan drama generasi kedua adalah Roz Ekki, Anwar Sadat, Muzammil Frasdia, Arung Wardhana Ellhafifie, dan Eko Sabto Utomo. Semua sastrawan generasi ketiga lahir dari Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan dan alumni STKIP PGRI Bangkalan, kecuali Arung Wardhana Ellhafifie. Dalam perjalanannya di dunia sastra, Arung Wardhana Ellhafifie berproses di Jakarta, yaitu teater Akasia, Teater Kubur, dan Teater Jakarta Timur. 

Adapun sastrawan drama generasi keempat adalah generasi yang semuanya lahir dari Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan dan alumni STKIP PGRI Bangkalan, kecual R. Nike Dianita Febrianti yang alumni Universitas Negeri Surabaya. 

Sastrawan-sastrawan generasi keempat adalah Joko Sucipto, Bangkit Prayogo, Alan Agus Kusuma, Hayyul Mb, R. Nike Dianita Febrianti, Suryadi Arfa, Rosi Praditya, dan R. Dian Kunfillah. Kecenderungan tema yang diangkat oleh generasi keempat bertema romantisme, kecuali R. Dian Kunfillah yang lebih berbicara sosial. Hal tersebut dikarenakan R. Dian Kunfillah selain aktif berkesenian di teater, juga aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).