Kenapa Harus New Historicism -->

Kenapa Harus New Historicism

Moh Ridlwan


Moh. Ridlwan

Awal-awal di Jogja (2019), ketika berdiskusi tentang gerakan sastra di Madura yang bertempat di Kopi Joglo, Sorowajan, salah satu dari teman melontarkan sebuah pertanyaan, “Apakah di Bangkalan ada sastrawan?”

Pertanyaan ini sangat sederhana tapi cukup membuat nyelekit apalagi dilontarkan oleh orang Bangkalan. Kemudian, saya berkesimpulan bahwa sastrawan Bangkalan tergelam dan hanya diketahui oleh sebagian kecil masyarakat Bangkalan sendiri.

Suasana nyelekit tersebut telah mengganggu saya hampir setiap hari. Sebagai orang yang banyak dekat dengan sastrawan Bangkalan merasa memperihatinkan atas kondisi kesusastraan Bangkalan, masyarakatnya lebih mengenal tokoh-tokoh sastrawan dari Madura Timur seperti D. Zawawi Imron, Abdul Hadi W.M dan lain sebagainya. Mereka hanya mengenal sastrawan yang telah mempunyai nama besar di tingkat nasional.

Cerita di atas saya hadirkan untuk mewakili sekian pengalaman yang serupa, yang dimaksudkan adalah pengalaman yang kerap kali terjadi dengan pertanyaan serupa oleh masyarakat Bangkalan terutama yang sedang belajar di perantauan.

Bagi saya, ini telah menjadi kewajiban untuk mengenalkan kesusastraan Bangkalan kepada berbagai lapisan masyarakat, khusunya di Bangkalan. Oleh karena itu, maka saya menginisiatif melakukan penelitian dan menulis sastrawan-sastrawan Bangkalan terutama yang bergerak di bidang drama.
 
Penelitian ini, pendekatan new historicism merupakan tawaran yang sangat sesuai dalam konteks Bangkalan saat ini. Kompleksitas problem kesusastraan atas minimnya apresiasi atau minimnya penelitian terhadap sastra Bangkalan akan menjadi jembatan bagi masyarakat terutama terhadap akademisi untuk meneliti kesusastraan Bangkalan lebih jauh.

Pendekatan new historicism merupakan sebuah kajian untuk melihat sastra dari segi sejarah sastra dan kritik sastra. Sebab, new historisicm adalah sebuah pisau untuk menembus sejarah sastra dari batas-batas ilmu sejarah, sastra (realitas yang hidup) dan ilmu-ilmu sosial.

Dengan demikian, penulis tidak hanya menyusun sejarah sastra, juga mengkritisi karya sastra dari berbagai aspek, seperti kritik sastra dari segi dekonstruksi sosial dan lain sebagainya. Sebab, new historicsm bisa dijadikan jembatan antara sejarah sastra dengan kritik sastra.
 
Penelitian yang masih sangat sederhana ini merupakan bagian langkah awal dalam usaha kajian sastra Bangkalan yang diharapkan dapat menjawab kebutuhan saya, masyarakat Bangkalan, sastrawan, akademisi yang bergerak di bidang sastra, serta betul-betul relavan dengan kondisi Bangkalan. Oleh karena itu, saya mengajak teman-teman mahasiswa, akademisi, dan pecinta sastra untuk bersama-sama mengembangkan sebuah pendekatan yang mampu merefleksikikan atas kondisi sastra di Bangkalan.