Tema-Tema Drama Bangkalan Bagian II -->

Tema-Tema Drama Bangkalan Bagian II

Moh Ridlwan


Canva Ilustrasi

Tulisan ini akan membahas dua pokok besar pembahasan pada sastra Bangkalan, yakni sastrawan terpenting dan kritik sosial. Dalam menentukan sastra avant-garde, ada tiga perspektif yang digunakan, pertama, naskah drama merupakan dokumen sejarah; kedua, naskah drama yang diangkat mengandung aspek sosial; ketiga; naskah drama mempunyai nilai estetis.

Dari ketiga perspektif tersebut, maka drama yang dipilih dari penelitian ini adalah drama New Total Bhangkalan (2017) karya M. Helmy Prasetya, drama Fragmen Pasar Burung (2017) Karya Roz Ekki, dan drama Dialektika Peristiwa dan Makna Tuhan dalam Pendidikan (2014) karya Joko Sucipto.

Aspek sejarah drama New Total Bhangkalan adalah sejarah etnis Madura di wilayah Bangkalan dalam pernikahan. Aspek sosial drama tersebut menjelaskan pergulatan status sosial dalam blater, kerabat, dan perempuan terutama dalam adat pernikahan. Aspek estetis terbangun di setiap paragraf yang dibangun dalam keseluruhan isi naskah drama New Total Bhangkalan.

Aspek sejarah drama Fragmen Pasar Burung adalah tentang kejadian-kejadian pasar burung di waktu sore yang terletak di dekat rumah penulis. Drama tersebut merepresentasikan sosial yang ada di dalamnya serta kritik sosial yang telah menjadi hegemoni antara laki-laki dan perempuan.

Drama Fragmen Pasar Burung adalah drama monolog yang lebih menekankan pada aspek keindahan atau estetis kata. Sedangkan drama Dialektika Peristiwa dan Makna Tuhan dalam Pendidikan adalah drama yang bukan berbau sejarah. Karena semua drama di generasi keempat adalah drama romantisme, maka yang diambil pada aspek yang paling mendekati ketiga aspek, yaitu sejarah, sosial, dan estetis. Drama Dialektika Peristiwa dan Makna Tuhan dalam Pendidikan telah mencakup pada dua aspek yang terakhir, yaitu sosial dan estetis.

Pembahasan kritik sosial dalam drama sastrawan Bangakalan mengacu pada teori dekonstruksi yang dikembangkan Jacques Derrida. Dekonstruksi sosial adalah membongkar struktur wacana sosial budaya yang telah mapan dengan mengkonstruksi ulang wacana yang baru.

Oleh karena itu, maka kritik sosial dengan dekonstruksi adalah melihat teks sastra sebagai pemahaman dan realitas berbeda. Misal, drama New Total Bhangkalan karya M. Helmy Prasetya mendekonstruksi pemahaman terhadap etnis Madura. Selain etnis Madura, banyak orang beranggapan bahwa etnis Madura berteramental kasar, moral rendah, suka duel atau carok, dan sebagainya.

Dalam realitas sosial, etnis Madura jauh dari perspektif tersebut. Jika etnis Madura melakukan carok, ini karena bentuk pembelaan yang martabat atau harga dirinya dilecehkan. Etnis mana pun akan melakukan yang sama jika dirinya dilecehkan.

Dekonstruksi sosial pada drama fragmen Pasar Burung karya Roz Ekki melihat pelecehan atau kekerasan seksual yang dipahami selama ini. Banyak orang beranggapan bahwa pelecehan atau kekerasan seksual disebabkan cara berpakaian perempuan. Artinya, perempuanlah yang patut disalahkan jika terjadi pelecehan.

Dalam realitas sosial, yang patut disalahkan adalah pihak laki-laki karena tidak mampu menjaga pikiran dan nafsu birahinya. Perempuan berpakaian model apa pun bukan mengundang untuk dilecehkan, tapi sebagai kenyamanan.

Oleh karena itu, jika terjadi pelecehan atau kekerasan seksual yang harus disalahkan adalah laki-laki. Sedangkan dekonstruksi drama Dialektika Peristiwa dan Makna Tuhan dalam Pendidikan karya Joko Sucipto adalah tentang hasil belajar. Banyak yang beranggapan bahwa orang pintar adalah orang baik. Realitas sosial, kepintaran seseorang tidak menentukan kebaikan seseorang.

Hal tersebut dilihat dari banyaknya pelaku kriminal dan koruptor didominasi oleh orang-orang yang berpendidikan. Bahkan korupsi dilakukan oleh pekerja profesional dan berstatus pendidikan tinggi. Dengan alasan tersebut, maka yang disebut orang pintar adalah orang yang baik dan berkarakter tinggi. Sebab, orang baiklah yang mengamalkan ilmunya pada tempatnya.