FONOLOGI PERUBAHAN BUNYI/FONEM BAHASA INDONESIA -->

FONOLOGI PERUBAHAN BUNYI/FONEM BAHASA INDONESIA

Moh Ridlwan



PERUBAHAN BUNYI/FONEM BAHASA INDONESIA
Di dalam praktik bertutur fonem atau bunyi bahasa itu tidak berdiri sendiri-sendiri, melainkan saling berkaitan di dalam satu runtunan bunyi. Penyebab perubahan itu bisa diprinci antaralain: akibat adanya koartikulasi, akibat pengaruh bunyi yang mendahului atau yag membelakangi, akibat distribusi, dan akibat lainnya.
1.      Akibat Adanya Koartikulasi
Koartikulasi terjadi karena sewaktu artikulasi primer untuk memproduksi bunyi pertama berlangsung, alat-alat ucap sudah mengambil ancang-ancang untuk membuat atau memproduksi bunyi berikutnya. Dalam peristiwa ini dikenal adanya proses-proses
a.      Labialisasi
Labialisasi adalah pembulatan bibir pada artikulasi primer sehingga terdengar bunyi semi vokal [w] pada bunyi utama tersebut. Kecuali bunyi labial, bunyi bahasa dapat disertai labialisasi. Misalnya bunyi [t] pada kata <tujuan>terdengar sebagai bunyi [tw] atau [t dilabialisasi].Dilafalkan menjadi [twujuwan].
b.      Retrofleksi
Retrofleksi adalah penarikan ujung lidah kebelakang pada artikulasi primer, sehingga terdengar [r] pada bunyi utamanya. Kecuali bunyi apikal, bunyi lain dapat disertai retrofleksi. Misalnya bunyi [k] adalah bunyi dorsopalatal tetapi bunyi [k] pada kata <kertas> dilafalkan sebagai bunyi [kr] karena bunyi [k] direrofleksikan dulu.jadi kata kertas dilafalkan menjadi [kretas].
c.       Palatalisasi
Palatalisasi adalah pengangkatan daun lidah ke arah langit-langit keras pada artikulasi primer. Kecuali bunyi palatal  bunyi lain dapat disertai palatalisasi. Misalnya bunyi [p] dalam kata <piara>terdengar sebagai [py] atau [p] dipalatalisasi, menjadi [pyara].
d.      Velarisasi
Velarisasi adalah pengangkatan pangkal lidah kearah langit-langit lunak pada artikulasi primer. Selain bunyi velar, bunyi bunyi lain dapat diveralisasi. Misalnya bunyi [m] dalam kata <mahluk>terdengar sebagai [mx] atau [m] di veralisasi, menjadi [mxaxluk].
e.       Glotalisasi
Glotalisasi adalah  proses penyerta hambatan pada glottis atau glottis tertutup rapat sewaktu artikulasi primer di ucapkan. Selain bunyi glotal bunyi bunyi lain dapat disertai glotalisasi. Vokal pada awal kata dalam bahasa Indonesia sering di glotalisasikan. Misalnya bunyi [o] dalam <obat>terdengar sebagai [?o] [?obat] atau [o] diglotalisasi.
2.      Akibat Pengaruh Bunyi Lingkungan
Akibat pengaruh bunyi lingkungan akan terjadi dua peristiwa perubahan yang disebut Asimilasi dan Disimilasi. Asimilasi dibagi dua yaitu Asimilasi progresif dan Asimilasi regresif.
Akibat Distribusi
Akibat distribusi akan terjadi perubahan  bunyi yang disebut:
f.       Aspirasi
Aspirasi adalah pengucapan suatu bunyi yang disertai dengan hembusan keluarnya udara dengan kuat sehingga terdengar bunyi [h]. Misalnya bunyi konsonan letup bersuara [b,d,j,g] jika berdistrubusi diawal dan ditengah kata cenderung di aspirasikan sehingga terdengar sebagai [bh,dh,jh,gh].
Contoh: baru [bharu]
              Datang [dhatan]
              Jatuh [jathuh]
g.      Pelepasan
Pelepasan adalah pengucapan bunyi hambat letup yang seharusnya dihambat atau diletupkan tetapi tidak dihambat atau diletupkan, kemudian dengan serentask bunyi berikut di ucapkan. Hambatan atau letupan itu dilepaskan atau dibebaskan. Pelepasan dibedakan atas lepas tajam, lepas nasal, dan lepas sampingan.
h.      Pemaduan (Pengafrikatan)
Pengafrikatan terjadi jika bunyi letup hambatan yang seharusnya dihambat dan diletupkan tidak dilakukan, melainkan setelah hambat dilepaskan secara bergeser dan pelan-pelan. Proses yang kedua menyebabkan adanya penyempitan jalanan  arus udara sehingga udara terpaksa keluar dengan bergeser. Artikulasinya mendajdi hambatan letupan. Gabungan antara hambatan dan geseran disebut paduan atau afrikat. Prosesnya disebut paduanisasi atau pengafrikatan.
Contoh : hebat [hebat s]
               Alat [?alats]
i.        Harmonisasi Vokal
Harmonisasi vokal adalah proses penyamaan vokal  pada silabel pertama terbuka dengan vokal pada silabel kedua yang tertutup. Pada kata <sate> dilafalkan [e]. Pada kata <bebek> dilafalkan [ὲ].
j.        Netralisasi
Netralisasi ialah hilangnya kontras antara dua buah fonem yang berbeda. Contoh bunyi [b] pada kata <jawab> bisa dilafalkan sebagai bunyi [p].
3.      Akibat Proses Morfologi
Perubahan bunyi akibat adanya proses morfologi lazim disebut dengan istilah morfofonrmik atau morfofonologi
a.      Pemunculan Fonem
Pemunculan fonem adalah hadirnya sebuah fonem yang sebelunya tidak ada akibat dari proses morfologi
Contoh {me} + {bina} → [membina]
{pem} + {bina} → [pembina]
b.      Pelepasan Fonem
Pelepas fonem adalah peristiwa hilangnya fonem akibat proses morfologi. Misalnya, hilangnya bunyi bunyi [h] pada proses pengimbuhan dengan akhiran {wan} pada kata <sejarah>
c.       Peluluhan Fonem
Peluluhan fonem adalah proses luluhnya sebuah fonem, lalu menyatu pada fonem berikutnya
Contoh. {pe} + {pilih} → [pǝmilih]
              {me} + {tulis} [mǝmilih]
d.      Pergeseran Fonem
Pergeseran fonem adalah berubahnya posisi sebuah fonem dari satu silabel kedalam silabel berikutnya.
Contoh {ma.kan} + {an} → [ma.kan.an]
e.       Perubahan Fonem
Perubahan fonem adalah proses perubahan sebuah fonem menjadi fonem yang lain karena menghindari adanya dua bunyi yang sama.
Contoh {ber} + {ajar} → [bἀlajar]
4.      Akibat Dari Perkembangan Sejarah
Perubahan bunyi ini tidak berkaitan dengan kajian fonologi, melainkan berkenaan dengan pemakaian sejumlah unsur leksikal di dalam masyarakat dan budaya. Perubahan yang berkenaan perkembangan sejarah pemakain bahasa ini anatara lain,
1.      Kontraksi
Kontraksi adalah proses menghilangkan sebuah bunyi atau lebih pada sebuah unsur leksikal. Unsur leksikal yang dihilangkan dapat dibedakan atas aferesis. Contoh , tetapi → tapi, hutang → utang. Apokop. Contoh, pelangit → pelangi, president → presiden. Dan sinkop. Contoh, baharu → baru, utpatti → upeti.
2.      Metatesis
Metatesis adalah perubahan urutan bunyi fonemis pada suatu kata. Contoh, jalur → lajur, sapu → apus.
3.      Diftongisasi
Diftongisasi adalah perubahan vokal tunggal menjadi vokal rangkap secara berurutan.
Contoh, anggota → anggauta, bunyi [o] → [au]
              Teladan → tauladan, bunyi [e] → [au]
4.      Monoftongisasi
Monoftongisasi adalah proses perubahan dua buah vokal atau gugus vokal menjadi sebuah vokal.  Contoh [ramay] diucapakan [rame], [kalaw] diucapkan [kalo]
5.      Anaftikis
Anaftikis adalah penambahan bunyi vokal di anatara dua konsonan dalam sebuah kata; atau penambahan sebuah konsonan pada sebuah kata tertentu. Kita mengenal adanya tiga macam anaftikis, yaitu:
a)      proteis. Contoh mas → emas, lang → elang.
b)      Empentesis. Contoh kapak → kampak, upama → umpama.
c)      Paragong. Contoh hulubala → hulubalang, adi → adik.
BUNYI BAHASA
Grafem Fonem Bahasa Indonesia
Pengertian Bunyi Bahasa
Bunyi bahasa merupakan bunyi, yang merupakan perwujudan dari setiap bahasa, yang dihasilkan oleh alat ucap manusia yang berperan di dalam bahasa. Bunyi bahasa adalah bunyi yang menjadi perhatian para ahli bahasa. Bunyi bahasa ini merupakan sarana komunikasi melalui bahasa dengan cara lisan
Transkripsi fonetik bunyi-bunyi bahasa beserta ciri-ciri suprasegmentalnya dilukiskan secara akurat sesuai persis dengan bunyi ciri perosodi yang didengar; dalam transkripsi fonemik bunyi-bunyi dituliskan sesuai dengan satuan-satuan fonemisnya. Sedangkan transkripsi ortografis bunyi-bunyi bahasa dituliskan dengan konvensi grafemis yang disepakati. Dalam hal bahasa indonesia tentu menurut aturan yang disepakati dalam pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD)
Menurut pedoman EYD grafem-grafem untuk fonem-fonem bahasa Indonesia sebagai berikut.
1.      Grafem Fonem Vokal
Fonem
Alofon
Grafem
Contoh
Awal
Tengah
Akhir

/i/
[i]

[I]

<i>

i.tu

a.pik

a.pi

/e/
[e]

[Ɛ]

<e>

e.kor

Mo.nyet

Sa.te
[ǝ]
[ǝ]
<e>
e.mas
Ke.ra
Ka.de

[u]
[u]
[U]


<u>

u.ji

Da.pur

La.gu

[o]
[o]

[]

<o>

o.bat

e.kor

Bak.so
[a]
[a]
<a>
a.pi
pi.sah
Lu.pa

2.      Grafem Fonem Diftong
Fonem
grafem
Contoh
Awal
Tengah
Akhir
/aw/
<au>
Au.la
-
Pu.lau
/ay/
<ai>
-
-
Lan.dai
/oy/
<oi>
-
-
Se.koi
/ey/
<ei>
-
-
Sur.vei



3.      Grafem Fonem Konsonan
Fonem
Alofon
Grafem
Contoh
Awal
Tengah
Akhir
/b/
[b]
[p]
<b>
Ba.ku
Re.but
Ja.wab
/p/
[p]
<p>
Pa.ku
Ba.pak
Si.kap
/w/
[w]

<w>
<u>
Wa.ris
-
a.n
-
-
li.mau
/f/
[f]

<f>
<v>
Fa.sih
vi.ta.min
Si.fat
Av.tur
Aktif
-
/d/
[d]
[t]
<d>
Da.ta
a.dat
a.bat
/t/
[t]
<t>
Ta.ri
Ba.tik
De.kat
/n/
[n]
<n>
Na.si
Ta.nam
Ja.lan
/m/
[m]
<m>
Mu.ka
a.man
Da.lam
/l/
[l]
<l>
La.ri
Ma.lam
ba.tal
/r/
[r]
<r>
Ra.sa
Ke.ras
Be.nar
/z/
[z]
<z>
Za.kat
Ra.zia
a.ziz
/s/
[s]
<s>
Sa.kit
a.sap
Ba.las
/ʃ/
[ʃ]
<sy>
Sya.hid
a.syar
a.rasy
/ň/
[ň]
<ny>
Nya.la
Ba.nyak
-
/j/
[j]
<j>
Ja.la
a.jal
-
/c/
[c]
<c>
Ca.ri
a.car
-
/y/
[i]
<y>
<i>
Ya.tim
-
a.yun
-
-
La.lai
/g/
[g]
<g>
Gi.la
La.gu
-

[k]
<k>
-
-
Gu.dek
/k/
[k]
<k>
Ki.ra
a.kal
Ja.rak
/ŋ/
[ŋ]
<ng>
Nga.nga
a.ngin
a.bang
/x/
[x]
<kh>
khas
a.khir
Ta,rikh
/h/
[h]
<h>
Ha.bis
Ba.hu
Su.dah
/?/
[?]
<k>
<0>
-
-
Nik.mat
Sa.at
Ba.pak
-

d.Lambang Unsur Suprasegmental
Unsur Suprasegmental yang berupa tekanan, nada, durasi, dan jeda karena tidak bersifat fonemis tidak diberi lambang apa-apa; tetapi unsur intonasi yang dapat menguba mana kalimat diberi lambang berupa tanda baca, yaiyu:
1.      Untuk kalimat deklaratif diberi tanda baca tanda titik (.)
2.      Untuk kalimat inteegoratif diberi tanda baca tanda tanya (?)
3.      Untuk kalimat imperatif diberi tanda baca tanda seru (!)
4.      Untuk kalimat interjektif diberi tanda baca tanda seru (!)
5.      Untuk menandai bagian-bagian kalimat digunakan tanda koma (,) dan tanda titik (.)