EVALUASI PEMBELAJARAN - Drs. Zainal Arifin, M.Pd -->

EVALUASI PEMBELAJARAN - Drs. Zainal Arifin, M.Pd

Moh Ridlwan



BAB 1
KONSEP DASAR EVALUASI
A.    Arti Evaluasi, Penilaian, dan Pengukuran
Evaluasi lebih luas ruang lingkupnya daripada penilaian, sedangkan penilaian lebihberfokus pada aspek tertentu. Istilah yang tepat dalam menilai sistem pembelajaran adalah evaluasi, bukan bernilai. Jika hal yang ingin dinilai satu atau beberapa bagaian atau komponen pembelajaran, misalnya hasil belajar maka istilah yang tepat digunakan adalah penilain, bukan evaluasi. Selain itu ada juga pengukuran.
Evaluasi dan penilaian merupakan kualitatuf sedangkan pengukuran merupakan kuantitatif (sekor atau angka) yang standar baku. Dalam konteks hasil belajar atau alat ukur atau instrument tersebut dapat berbentuk tes atau non-tes. Evaluasi merupakan salah satu komponen penting dan tahap yang harus di tempuh oleh guru untuk mengetahui keefektifan pembelajaran. Selain itu evaluasi adalah suatu peruses yang sistematis dan berkelanjutanuntuk menentukan kualitas (nilai dan arti) dari sesuatu, berdasarkan pertimbangan dan kriteria tertentu dalam rangka pembuatan keputusan, selain itu evaluasi bukanlah suatu hasil produk.
Evaluasi dan penilaian lebih bersifat komprehensip yang meliputi pengukuran, sedangkan tes merupakan salah satu alat(instrument) pengukuran pengukuran lebih membatasi pada gambar yang bersifat kuantitatif (angka-angka) tentang kemajuan belajar peserta didik, sedangkan evaluasi dan penilian lebih bersifat kualitati. Di samping itu evaluasi dan penilaian pada hakikatnya merupakan suatu penilaian tidak hanya didasrkan pada hasil pengukuran, tetapi dapat pula di dasarkan pada jenisnya.

B.     Kedudukan Evaluasi dalam Pembelajaran
Kata dasar “pembelajaran” adalah belajar. Dalam arti sempit pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu proses atau cara yang dilakukan agar seseorang dilakaukan untuk belajasecra sungguh-sungguh yang melibatkan aspek intelektual, emosional, dan social, sadangkan kata “pengajaran” lebih cenderung pada kegiatan mengajar guru di kelas.
Dengan demikian, kata “pembelajaran” ruanglinkupnya lebih luas daripada kat “pengajaran”. Dalam arti luas, pembelajaran adalah suatu proses atau kegiatan yang sistematis dan sistemik, yang bersifat interaktif dan komunikatif antara pendidik (guru) dengan peserta didik, baik di kelas maupun di luar kelas, dihadiri guru secara fisik atau tidak, untuk menguasi kompetensi yang ditentukan.
Kata “Prestasi” berasal dari kata Belanda yaitu prestatie. Dalam bahasa Indonesia “prestasi” yang berarti “hasil usaha”. Istilah “prestasi belajar” (achievenment) berbeda dengan “hasil belajar” (learning autcome). Prestasi belajar pada umumnya berkenaan dengan aspek pengetahuan, sedangkan hasil belajar meliputi aspek pembetukan watak peserta didik.
Kata prestasi banyak yang digunakan dalam berbagai dan kegiatan antara lain dalam kesenian, olahraga, dan pendidikan, khususnya pembelajaran. Salah satu komponen pembelajaran adalah evaluasi. Begitu juga dalam prosedur pembelajaran, salah satu langkah yang harus ditempuh guru adalah evaluasi mempunyai kedudukan yang sangat penting dan strategis karena evaluasi merupakan suatu bagian yang tidak bisa terpisahkan dari pembelajaran.
C.    Tujuan dan Fungsi Evaluasi Pembelajaran
Tujuan evaluasi ada yang bersifat umum dan ada yang bersifat khusus. Jika tujuan evaluasi masih bersifat umum, maka tujuan tersebut perlu diperinci menjadi tujuan khusus, sehingga dapat menuntun guru dalam nenyusun soal atau megembangkan instrumen evaluasi lainnya. Ada dua cara yang dapat dtempuh guru untuk merumuskan tujuan evaluasi yang bersifat khusus. Pertama, melakukan perincian ruang lingkup evaluasi. Kedua, melakukan perincian proses mental yang akan dievaluasi. Selian itu tujuan evaluasi pembelajaran adalah untuk mengetahui keefektifan dan efesiensi sistem pembelajaran, baik yang menangkut tentang tujuan, materi, metode, media,sumber belajar, baik lingkungan maupun sistem penilaian itu sendiri. Tujuan khusus evaluasi pembelajaran disesuaikan dengan jenis evaluasi pembelajaran itu sendir.
Fungsi evaluasi pembelajaran, menurut Scriven (1967) fungsi evaluasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu fungsi formatif dan fungsi sumatif. Fungsi formatif dilaksanakan apabila hasil yang diperoleh dari kegiatan evaluasi diarahkan untuk memperbaiki bagian tertentu atau sebagian besar kurikulum yang sedangdikembangkan. Sedangkan fungsi sumatif dihubungkan dengan penyimpulan mengenai kebaikan dari sistem secara keseuruhan dan fungsi ini dapat dilaksanakan apabila menggembangkan suatu kurikulum telah dianggap selsai. Selain itu, Stanley dalam Oemar Hamalik (1989) mengemukakan secara spesifik tentang fungsi tes dalam pembelajaran yang dikatagorikan kedalam tiga fungsi yang saling berinteraksi yakni fungsi instruksional, fungsi administratif, dan fungsi bimningan. Berdasarkan penjelasan di atas, maka fungsi evaluasi pembelajaran untuk perbaikan dan pengembangan sistem pembelajaran. Selanjutnya untuk akreditasi. Dalam UUD No.20/2003 Bab I Pasal 1 ayat 22, dijelaskan bahwa “akreditasi adalah kegiatan penilaian kelayakan program dalam satuan pendidikan berdasarkan criteria yang telah ditetepkan”. Salah satu komponen akreditasi adalah pembelajaran.artinya, fungsi akreditasi dapat dilaksanakan jika hasil evaluasi pembelajaran digunakan sebagai dasar akreditasi lembaga pendidikan.
Formatif
Diagnostik
Penempatan
Sumatif
Fungsi Penilaian
Fungsi penilian hasil belajar adalah fungsi formatif, fungsi diagostik, fungsi sumatif, dan fungsi penetapan.
D.    Prinsip-Prinsip Umum Evaluasi
Kontinuitas
Komprehensif
Adil dan Objektif
Kooperatif
Praktis
E.     Jenis Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi perencanaan dan pengembangan hasil evaluasi ini sangat diperlukan untuk mendesain program pembelajaran. Sasaran utamanya adalah memberikan bantuan tahap awal dalam penyusunan program pembelajaran.
Evaluasi monitoring, untuk memeriksa apakah program pembelajaran mencapai sasaran secara efektif dan apakah program pembelajaran terlaksana sebagai mestinya.
Evaluasi dampak, untuk mengrtahui dampak yang ditimbulkan oleh suatu program pembelajaran.
Evaluasi efesiensi-ekonomi, untuk menilai tingkat efesiensi pelaksanaan program pembelajaran.
Evaluasi program konprehensif, untuk menilai program pembelajaran secara menyeluruh, seperti perencanaan program, pelaksanaan program, monitoring pelaksanaan, dampak program, tingkat keefektifan dan efisiensi. Dalam model dikenal dengan education system evaluation model
BAB II
STANDAR PENILAIAN DALAM PRESPEKTIF STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN
A.    Konsep Dasar Pendidikan Nasional
Menurut Carter V. Good dalam Dictionary of Education, pendidikan adalah proses pengembangan kecakapanseseorang dalam bentuk sikap dan prilaku yang berlaku dalam masyarakatnya, proses social ketika seseorang dipengaruhi oleh suatu lingkingan yang terpimpin (sekolah), sehingga dapat mencapai kecakapan sosialdan mengembangkan pribadinya. Pengertian pendidikan juga dapat dipahami dari pendekatan monodisipliner, dimana konsep pendidikan dilihat dalam berbagai disiplin keilmuan diantaranya, sosiologi, antropologi, pisikologis, ekonomi, politik, dan agama.
Pendidikan adalah suatu usaha yang dilakukan untuk mengembangkan kemampuan dan kepribadian individu melalui proses atau kegiatan tertentu (pengejaran, bimbingan atau latihan) secara interaksi individu dengan lingkungannya untuk mencpai manusia seutuhnya (insan kamil).usaha yang dimaksud adalah suatu tindakan atau perbuatan yang dilakukan secara sadar dan terencana, sedangkan kemampuan berarti kemampuan dasar atau potensi. Asumsinya, setiap manusia mempunyai potensi untuk dapat dididik dan dapat mendidik. Aspek kepribadian menyangkut tentang sika, bakat, minat, motivasi, nilai-nilai yang melakat pada diri seseorang.
B.     Standar Nasional Pendidikan
Dalam UU No.20/2003 Bab Ipasal 1 ayat 17 dikemukakan bahwa “standar nasional pendidikan adalah kritera minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia”.standar nasional pendidikan bukan hanya mengatur tentang standar isi, tetapi juga stadar proses, kompetensi standar lulusan, tenag kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian pendidikan.
Stsandar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrument penilaian hasil belajar peserta didik.
Artinya pemerintah sudah mengatur bagaimana tahapan-tahapan melakukan penilaian, langkah-langkah operasional yang harus ditempuh oleh pendidikan, dan alat yang digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang proses dan hasil belajar peserta didik. Untuk jenjeng pendidikan dasar dan menengah, pelaksanaan penilain pendidikan dapat dilakukan oleh pendidik, satuan pendidikan, pemerintah,
Standar Nasional Pendiadikan sebagai criteria minimal dalam sistem pendidikan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia harus berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan. Hal ini dimksudkan agar dapat mencapai tujuan Standar Nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.
C.    Landasan Yuridis-Formal Sistem Evaluasi dan Standar Penilaian
Dalam Bab I Pasal 1ayat 21 dikemukakan bahwa evaluasi pendidikan adalah kegiatan pengendalian, penjaminan, dan penetapan mutu pendidikan terhdap sebagai komponen pendidikan pada setiap jalur, jenjang, dan jenis pendidikan sebagai bentuk pertanggungjawaban penyelenggaraan pendidikan.
Peraturan Pemerintah R.I.No.19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
Dalam BabI tentang Ketentuan Umum,Pasal 1, dikemukakan: ayat (11): standar penilaian pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrument penilain hasil belajar peserta didik. Ayat (17): penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik.. ayat (18): evaluasi pendidikan adalah kegiatan pengendalian, penjaminan, dan penetapan mutu pendidikan terhadap berbagai komponen pendidikan dapat setiap jalur, jenjang, dan jenis pendidikan sebagi bentuk pertanganjawaban penelenggaraan pendidikan. Ayat (19): ulangan adalah proses yang dilakukan untuk mengkur pencapaian kompetensi pesrta didik secaraberkelanjutan dalam proses pembelajaran, untuk mementau kemajuan dan perbaikan hasil belajar peserta didik. Ayat (20) ujian adalah kegatanyang dilakukan untuk mengkur pencapaian kompetensi peserta didik sebagai pengakuan prestasi belajar atau penyelesaian dari suatu satuan pendidikan.
D.    Standar Penilaian Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSPN)
Dalam UU. No. 20/2003 Bab IX Pasal 35 ayat (3) dijelaskan bahwa pengembangan standar nasional pendidikn secara pemantauan dan pelaporan pencapaiannya secara nasional dilaksanakan oleh suatu badan sandardisasi, penjaminan, dan pengendalian mutu pendidikan. Keberadaan badan tersebut diatur dalam PP.19/2005 Bab XI pasal 73. Ditegaskan dalam Pasal 77 bawa dalam menjalankan tugasnya sebagaimana dimaksud dalam pasal 76 ayat (3), BSNP didukung dan berkoordinasi dengan depatemen dan departemen yang menangani urusan pemerinttahan di bidang agama, dan dinas yang menangani pendidikan di provinsi/kabupaten/kota.
E.     Standar Penilaian oleh Pendidik
Standar Umum Penilaian, yaitu aturan main dari aspek aspek umum dalam pelaksanaan penilaian. Untuk melakuan penilaian, pendidik hrus selalu mengacu pada standar umumpenilaian. BSNP menjabarkan standar umum penilaian ini dalam prinsip-prinsip yaitu, pemilihan teknik penilaian disesuaikan dengan karakteristikmata pelajaran serta jenis informasi yang ingin diperoleh dari peserta didik. Informasi yang dihimpun mencakup ranah-ranah yang sesuai dengan standar isi dan standar kompetensi lulusan. Informasi mengenai perkembangan prilaku peserta didik dilakukan secara berkala pada kelompok mata pelajaran masing-masing dan sebagai berikut.
Standar Perencanaan Penilaian, oelh pendidik merupakan prinsip-prinsip yang harus dipendomani bagi pendidik dalam melakukan perencanaan penilaian. BSPN menjabarkan prinsip sebagai berikut, pendidik harus membuat rencana penilian secara terpadu dengan silabus dan perencanaan pembelajaran, pendidikan harus mengmbangkan criteria pencapaian kompetensi dasar sebagai dasar untuk penilaian,pendidik menggunakan acuan criteria dalam menentukan nilai peserta didik.
Standar Pelaksanaan Penilaian, dalam pendoman umum penilaian yang disusun oleh BSPN, standar pelaksanaan penilaian oleh pendidik meliputi, pendidik melakukan kegiatan penilaian sesuai dengan rencana penilaian yang telah disusun di awal kegiatan pembelajaran, pendidik menganalisis kualitas instrument dengan mengacu pada persyaratan instrument serta menggunakan acuan criteria.
Standar Pengolahan dan Pelaporan Hasil Penilaian,pemberian skor untuk setiap komponen yang dinilai, penggabungan skor yang di peroleh dari berbagai teknik dengan bobot tertentu sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan, pendidik bersama wali kelas menyampaikan hasil penilaiaannya dalam rapatdewan guru untuk menentukan kenaikan kelas.
Standar Pemanfaatan Hasil Penilaian, pendidik mengklasifikasikan pesert didik
berdasat tingkat ketuntasan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar
F.     Standar Penilaian oleh Satuan Pendidikan
Menurut BSNP ada dua standar pokok yang harus diperhatikan dalam penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan, diantaranya. Standar penentuan kenaikan kelas,dan standar penentuan kelas.
G.    Teknik Penilaian Menurut BSNP
Untuk memperoleh data tenteng proses dan hasil belajar peserta didik pendidik dapat menggunakan berbagai teknik penilaian secara komplementer sesuai dengan kompetensi yang dinilai. Menurut pendoman umum BSN, teknik penilaian yang dapat digunakan antar lain, tes kerja, demonstraksi, observasi, penugasan, portofolio, tes tertulis, tes lisan, jurnal,wawancaea, inventori, penilaian diri, dan penilaian antar teman.

H.    Ujian Nasional: Perkembangan dan Permasalahannya
Ujian Nansional yang dilaksanakan yang dilaksanakan oleh pemerintah melalui BSNP mempunyai sejarah yang cukup panjang.samppai dengan tahun 2000, pemerintah (Departemen Pendidikan Nasional) telah menyelenggarakan apa yang disebut dengan Evaluasi Bealjar Tahap Akhir Nasional (EBTANAS). Berbagai isu dan kritikan darimasyarakat silih berganiti. Berdasarkan kritikan dan masukan dari masyarakat tentang UN dan memeperhatikan pula program wajib belajar pendidikan dasar Sembilan tahun, maka sejak tahun 2008/2009 dilaksanakan Ujian Akhir Sekolah Bertaraf Nasional (UAS-BN) untuk sekolah dasar dan yang sederajat. Maksudnya, pembuatan social dilakukan oleh guru-guru SD di bawah bimbingan danpengarahan dari Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah serta BSNP.

BAB III
KARAKTERISTIK, MODEL DAN PENDEKATAN EVALUASI PEMELAJARAN
A.    Karakteristik Instrumen Evaluasi
Valid, suatu instrumen dapat dikatakan valid jika bekutul-betul menggukur apa yang hendak di ukur secara tepat
Realibel, suatu instrument dapat dikatakan relibel atau handal jika ia mempunyai hasil yang taat asas (consistent)
Relevan, instrumen yang digunakan harus sesuai dengan standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator yang telah ditetapkan
Representative, materi instrumen harus betul-betul mewakili seluruh materi yang disampaikan
Praktis,mudah digunakan,
Deskriminatif, instrumen itu harus disusun sedemikian rupa, sehingga dapat menunjukan perbedaan-perbedaan yang sekecil apapun
Spesifik, suatu instrument disusun dan digunakankhusus untuk objek yang dievaluasi
Proporsional, instrument harus memiliki tiap kesuitan yang di propoesional antara sulit, sedang, dan mudah
B.     Model-Model Evaluasi
Model Tyler, model ini dibangun atas dua dasar pemikiran. Pertama, evaluasi ditunjukan pada tingkah laku peserta didik. Kedua, evaluasi harus dilakukan pada tingkah laku awal peserta didik sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran dan seudah melaksanakan kegiatan pembelajaran (hasil). Menurut Tyler ada tiga langkah pokok yang herus dilakukan, yaitu menentukan tujuan pembelajaran yang akan dievaluasi, menentukan situasi dimana pesrta didik memperoleh kesempatan ununjukan tingkah laku yang berhubungan dengan tujuan, dan menentukan alat evaluasi yang akan dipergunakanuntuk mengukur tingkah laku peserta didik.
Model yang Berorientasi pada Tujuan, dalam pembelajaran, kita mengenal adanya tujuan pembelajaran umum dan khusus. Model evaluasi ini menggunakan kedua tujuan tersebut sebagai criteria untuk menentukan keberasilan. Evaluasi diartikan sebagai proses pengukuran untuk mengetahui sejauh mana tujuan pembelajaran telah tercapai.
Model Pengukuran (measuremen model),banyak mengemukakan pemikran-pemikiran dari .Thorndike dan R.L.Ebel. model ini sangat menitikberatkan pada kegiatan pengukuran. Pengukuran digunakan untukmenentukan kualitas suatu sifat (attribute) tertentu yang ditentukan oleh objek, orang maupun peristiwa, dalam bentuk unit ukuran tertentu.
Model Kesesuaian (Ralph W.Tyler, John B.Carrol, and Lee J.Cronbach), model ini, evaluasi adalah suatu kegiatan untuk melihat kesesuaian (Cogruence) antara tujuan dan hasilbelajar yang telah dicapai. Hasil evaluasi digunakan untuk menyempurnakan sistem bimbinganpeserta didik dan untuk memberikan informasi kepada pihak-pihak yang memerlukan.
Educational System Evalu Ation Model, evaluasi berarti membandingkan performance dari berbagai dimensi (tidak hanya dimensi hasil saja) dengan sejumlah criterion, baik yang bersifat mutlak/interen maupun relative/ekstern.
Model Alkin, evaluasi adalah suatu prosesuntuk menyakinkan keputusan, mengumpulkan informasi yang tepat menganalisis informasi sehingga dapat di susun laporan bagi pembuat keputusan dalam memilih beberapa alternative.
Model brinkerhof,fiexv emergent evaluation desing, formative, desain eksperimental.
Model Illuminative, evaluasi ini menekankan pada evaluasi kualitatif terbuka.
Model Responsif, menekankan pada pendekatan kualitatif-naturalistik.
C.    Pendekatan Evaluasi
Pendekatan evaluasi merupakan sudut pandan seseorang dalam menelaah atau mempelajari evaluasi. Pendekatan tradisional berorientasi pada praktik evaluasi yang telah berjalan di sekolah yang ditunjukan pasa perkembanggan aspek intelektual pesertadidik.pendekatan sistem, totalitas dari berbagai komponen yang saling berhubungan dan kerergantungan.

BAB IV
PROSEDUR PENGEMBANGAN EVALUASI PEMBELAJARAN
Perencanaan Evaluasi, perencanaan evaluasiini harus dirumuskan secara jelas dan spesifik terurai dan khoperenshif sehingga perencanaan tersebut bermakna dalam menentukan langkah-langkah selanjutnya. Pentingnya analisis kebutuhan merupakan integral dari sistem pembelajaran secara keseluruhan.selanjutnya dalam perencanaan penilaian hasil belajar, ada beberapa factor yang harus diperhatikan, seperti merumuskan tujuan penilaian, mengidentifikasi kompetensi dan hasil belajar, menyususun kisi-kisi, mengbangkan draft instrument,uji coba dan analisis instrument,revisi dan merakit instrument baru.
Pelaksanaan Evaluasi, pelaksanaan evalusai artinya bagai mana cara melaksanakan suatu evaluasi sesuai dengan perencanaan evaluasi. Dalam perencanaan evaluas telah disinggung semua hal yang berkaitan dengan evaluasi. Artinya tujuan evaluasi, model dan jenis evaluasi,objek evaluasi, instruman evaluasi,sumber data, semuanya sudah dipersiapkan pada tahap perencanaan evaluasi. Pelaksanaan evaluasi sangat bergantung pada jenis evaluasi yang digunakan.
Monitoring Pelaksanaan Evaluasi, tujuannya adalah untuk mencegah hal-hal yang negative dan meningkatkan efesiensi pelaksanaan evaluasi. Monitoring mempunyai dua fungsi pokok. Pertama, untuk melihat relevansi pelaksanaan evaluasi dengan perencanaan evaluasi. Kedua, utuk melihat hal-hak apa yang terjadi selama pelaksanaan evaluasi.
Pengelola Data, setelah semua data dikumpulkan, baik secara langsung maupun tidak langsung, maka selanjutny dilakukan pengelola data. Menlola data berarti mengubah wujud data yang sudah dikumpulkan menjadi sebuah sajian data yang menarik dan bermakna. Data hasil evaluasi, ada yang berbentuk kualitatif, ada juga yang berbentuk kuantitatif, sedangkan data kualitatif tentu diolah dan dianalisis secara kualitatif, sedangkan data kuantitatifdiolah dan dianalisis dengan bantuan statiska, baik statistika deskriptif maupun statistika infernsial.
Pelaporan Hasil Evaluasi, semua hasil evaluasi harus dilaporkan kepada berbagai pihak yang berkepentingan seperti orang tua/wali, kepala sekolah, pengawas pemerintah, mitra sekolah, dan peserta didik itu sendiri sebagi akuntabilitas publik. Dalam dokumen kurikulum berbasis kompetensi, Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas (2002) menjelaskan, “laporan kemajuan siswa dapat dikategorikan menjadi dua jenis yaitu, laporan prestasi dalam mata pelajaran dan laporan pencapaian.
Pengguanaan Hasil Evaluasi, untuk keperluan laporan pertanggung jawaban, untuk keperluan sleksi, untuk keperluan promosi, untuk keperluan diagnosis, untuk memperdiksi masa depan peserta didik.


BAB V
PENGEMBANGAN ISTRUMEN EVALUASI JENIS TES
PengemanganTes Bentuk Uraian, bentuk uraian dapat digunakan untuk mengukur kegiatan-kegiatan belajar yang sulit diukur oleh bentuk objektif. Disebut bentuk uraian, karena menuntut peserta didik untuk enguraikan, mengorganisaikan, dan menyatakan jawaban dengan kata-katnya sendiri dalam dalam bentuk, teknik dan gaya yang berbeda satu dengan yang lainya.
Pengembangan Tes Bentuk Objektif, sering juga tes dikotomi, karena jawabannya antara benar atau salah dan skornya antara 1 atau 0.disebut tes objektif karena peniliannya objektif. Tes objektif terdiri atas beberapa bentuk, yaitu benar-salah,pilihan ganda, menjodohkan, dan melengkapi atau jawaban singkat.
Pengembangan Tes LIsan, yaitu tes yang menuntut jawaban dari peserta didik dalam bentuk lisan.peserta didik akan mengucapkan jawaban dengan kata-katanya sendiri sesuai dengan pertanyaan atau perintah yang diberikan.
Pengembangan Tes Perbuatan, adalah tes yang menuntut jawaban peserta didik dalam bentuk prilaku, tindakan, atau perbuatan.
BAB VI
PENGEMBANGAN INSTRUMEN EVALUASI JENIS NON-TES

Observasi (observation),sebenarnya observasi merupkan proses yang alami, pentingnya observasi dalam kegiatan evaluasi pembelajaran mengharuskan guru untuk memehami lebih jauh tentang judgement, bertindak secara reflektif, dan menggunakan komentar orang laian sebagai informasi untuk membuat judgement yang lebih reliable.
Wawancara (Interview), wawancara merupakan salah satu alat evaluasi jenis non-tes yang dilakukan melalui percakapan dan Tanya jawab, baik langsung maupun tidak langsung dengan peserta didik. Wawancara adalah yang dilakukan secara langsuang antara pewawancara atau guru dengan orang yang diwawancari atau peserta didik tanpa melalui perantara.
Sekala Sikap(Attitude Scale),sikap merupakan seatu kecenderungan tingkah laku untuk berbuat sesuatu dengan cara, metode, teknik, dan pola tertentu terhadap dunia sekitarnya, baik berupa orang-orang maupun berupa objek-objek tertentu.
Daftar Cek (Check List), adalah suatu daftar yang berisi subjek dan asfek-asfek yang akan diamanti. Daftar cek dapat memungkinkan guru sebagai penilai mencatat tiap-tiap kejadian yang betapaun kecilnya, tetepi dianggap penting.
Sekala Penilaian ( Rating Scale), dalam daftar cek, penilian hanya dapat mencatat ada tidaknya variable tingkah laku tertentu, sedangkan dalam skala penilaian fenomena-fenomena yang akan dinilai itu disusun dalam tingkatan-tingkatan yang telah ditentukan.
Angket (Quetioner), angket termasuk alat untuk mengumpulkan dan mencatat data atau informasi, pendapat, pemahaman dalam hubungan kasual. Angket mempunyai kesamaan dengan wawancara kecuali dalam implementasinya. Angket dilaksanakan secara tertulis, sedangkan wawancara dilaksanakan secara lisan.
Studi Kasus (Case Study),adalah studi yang mendalam dan komperensif tentang peserta didik, kelas atau sekolah yang memiliki kasus tertentu. Pengerian mendalam dan kompernsif adalah mengungkapkan semua variable dan aspek-aspek yang melatar belakanginya, yang diduga menjadi penyebab timbulnya prilaku atau kasus tersebut dalam kurun waktu tertentu.
Catatan Insidental (Anecdotal Records), adalah catatan-catatan singkat tentang peristiwa-peristiwa sepintas yang dialami peserta didik secara perseorangan. Catatan ini merupakan pelengkap dalam rangka penilaian guru terhadap peserta didiknya, terutama yang berkenan dengan tingkah laku peserta didik.
Sosiometri, adalah suatu proseduruntuk merangkum, menysun, dan sampai batas tertentu dapat mengkuantifikasi pendapat-pendapat peserta didik tentang penerimaan teman sebayanya serta hubungan diantra mereka.
Inventori Kepribadian, hampir serupa dengan tes kepribadian,bedanya pada inventori jawaban peserta didik tidak memakai criteria benar-salah.semua jawaban peserta didik adalah benar selamadia menyatakan yang sesungguhnya. Aspek-aspek kepribadian yang biasanya dapat diketahui melalui inventori ini, seperti sikap, minat, sifat-sifat, kepemimpinan, dan dominasi.
Teknik Pemberian Penghargaan Kepada Peserta Didik, dianggap penting karena banyak respons dan tindakan positif dari peserta didik yang timbul sebagai akibat tindakan belajar, tetapi kurang mendapat perhatian dan tanggapan yang serius dari guru.seharusnya guru memberikan penghargaan kepada setiap tindakan positif dari peserta didik dalam berbagai bentuk baik secara langsung maupun tidak langsung sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar.


BAB VII
PENILAIAN BERBASIS KELAS

A.    Pengartian Penilaian Berbasis Kelas
Penilaian berbasis kelas adalah penilaian dalam arti “assessment”. Maksudnya, data dan informasi dari penilaian berbasis kelas merupakan salah satu bukti yang sapat digunakan untuk mengukur keberhasilan suatu peogram pendidikan. Selanjutnya dapat diartikan juga sebagai suatu proses pengumpulan, pelaporan, dan penggunaan data dan informasi tentang hasil belajar peserta didik terhadap tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
B.     Tujuan dan Fungsi Penilaian Berbasis Kelas
Tujuan umum penilaian berbasis kelas yaitu untuk memberikan penghargaan terhadap pencapaian hasil belajar peserta didik dan memperbaiki program dan kegiatan pembelajaran. Fungsi penilaian berbasis kelas bagi peserta didik dan guru adalah membantu peserta didik dalam mewujudkan dirinya dengan mengubah atau mengembangan priakunya kea rah yanlebih baik dan maju, membantu peserta didik mendapat kepuasan atas apa yang telah dikerjakannya, membantu guru menetapkan apakah strategi, metode dan media mengajar yang digunakannya telah memadai, dan keputusan membantu guru dalam membuat pertimbangan dan keputusan daministrasi.
C.    Objek Penilaian Berbasis Kelas
Sesuai dengan petunjuk penngembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi yng dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Nasional yaitu penilian kompetensi dasar mata pelajaran, penilian kompetansi rumpun pelajaran, penilian kompetensi lintas kurikulum, penilaian kompetensi tamatan, penilian terhadap pencapaian keterampilan hidup.
D.    Domaian dan Alat Penilian Berbasis Kelas
Domain Kognitif, tingkatan hafalan, tingkatan pemahaman, tingkatan aplikasi, tingkatan analisis, tingkatan sintesis, tingkatan evaluasi.
Domaian pisikomotor, tingkatan penguasaan gerakan awal berbasis kemampuan peserta didik dalam menggerakan sebagian anggota badan, tingkatan gerakan semirutin ,tingkatan gerakan rutin berisi.
Domaian Afektif, memberikan respons atau reaksi terhadap nila-nilai yang dihadapken kepadanya, menikmati atau menerima nilai, menilai ditinjau dari segi baik buruk, menerapkan atau mempraktikan nilai.
E.     Prinsip-prinsip Penilaian Berbadis Kelas
Pusat kurikulum balitbang Depdiknas (2002) menjelaskan bahwa secara umum, penilaia berbasis kelas harus memenuhi prinsip-prinsip valid, mendidik, berorientasi pada kompetensi, adil dan objektif, terbuka, berkisinambungan, menyeluruh dan bermakna. Adapun secara khusus adanya kesempatan yang terbaik bagi peserta didik untuk menujukan apa yang mereka ketahui dan pahami, selanjutnya melaksanakan prosedur penilaian berbasis kelas dan pencatatan secara tepat.
F.     Manfaat Hasil Penilian Berbasis Kelas

Penilaian sangat bermanfaat bagi guru karena penilaian berbasis kelas bermanfaat untuk mengetahui kemajuan dan hasil belajar peserta didik, bagi orang tua karena peniliaain berbasis kelas nermanfaat untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan anaknya, bagi peserta didik karena penilian berbasis kelas bermanfaat untuk mementau hasil pencapaian kompetensi secara utuh baik aspek pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai.

G.    Jenis-jenis Penilaian Berbasis Kelas
Sumarna Surapranata dan Muhammad Hatta (2004) mengemukakan jenis-jenis penilian berbasis kelasyaitu tes tertulis, tes perbuatan, pemberian tugas, penilian kinerja, penilian proyek, penilian hasil kerja peserta didik, penilaian sikap, dan penilaian portofolio.

Bab VIII
ModelPenilaian Portofolio
A.    Dasar Pemikiran
Penilaian portofolio sebagai suatu penilaian model baru yang diterapkan di Indonesia sajak kurikulum 2004 tentu mempunyai maksud dan tujuan tertentu, yaitu untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Halini memeng logis dan wajae karena sealam sistem penilaian yang digunakan sekolah cenderung hanya melihat hasil belahar peserta didik dan membeikan proses belajarnya, sehingga nilai akhir yang dilaporkan kepada orangtua dan pihak-pihakterkait hanya menyangkut domaian kognitif.
B.     Pengertian Portofolio
Istilah portofolio (portfolio) pertama kali digunakan oleh kalangan artis dan potografer. Secara umum portofolio merupakan kumpulan dokumen berupa objek penilaian yang dipakai oleh seseorang,kelompok, lembaga, organisai atau perusahaan yang bertujuan untuk mendokumentasikan dan menilai perkembangan suatu proses.

C.    Tujuan dan Fungsi Portofolio
Tujuan penilaian portofolio adalah untuk membeerikan informasi kepada orang tua tentang perkembangan peserta didik secara lengkap dengan dukungan data dan dokumen yang kuat. Fungsi penilaian portofolio,portofolio sebagai sumber informasi bagi guru dan orang tua untuk mengetahui pertumbuhan dan perkembangan kemampuan peserta didik, tanggung jawab dalam belajar, perluasan dimensi belajar, dan inovasi pembelajaran, portofolio sebagai alat pembelajaran merupakan komponen kurikulum, portofolio sebagai alat penilaian autentik, prtofolio sebagai suber informasi.
D.    Prinsip-prinsip Penilaian Portofolio
Proses penilaian portofolio menuntut terjadinya interaksi multiarah yaitu dari guru kepeserta didik, dari peserta didik ke guru, dan diantarpeserta didik. Direktorat PLP Ditjen Dikdasmen Depdiknas (2003) mengemukakan pelaksanaan penilaian portofolio hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip, mutual trust (saling memeprcayai), confidentiality (kerahasiaan bersama), joint ownership(milik berasam), satisfaction (keputusan), dan relevance (kesesuaian)
E.     Karekteristik Penilaian Portofolio
Multi sumber, beragam tujuan, kepemilikan, autentik, dinamis, eksplisit, dan integrasi.
F.     Kelebihan dan Kekurangan Portofolio
Kelebihan model penilaian portofolio, dapat melihat pertumbuhan dan perkembangan kemampuan peserta didik, membantu guru melakukan penilaian secara adil, mengajak peserta didikuntuk bertanggung jawab, member kesempatan untuk pesertadidk dalam meningkatkan perstasi,membantu guru mengklarifikasikan. Kekeurangan penilaian portofolio, memebutuhkan waktu dan kerja ekstra, tidak tersedianya criteria penilaian yang jelas, sulit dilakukan terutama menghadapi ujian dalam skala nasional.
G.    Jenis Penilaian Portofolio
Jenis penilaian portofolio akan memberikan pemahaman tentang perlunya penggunaan penilaian portofolio secara berfareasi sesuai dengan jenis kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik. Jenis penilaian portofolio terdapat peserta didik didalamnya bisa perseorangan atau kelompok, selanjutnya sistem terdapat proses, kerja produk, tampilan, dokumen.
H.    Tahap-tahap Penilaian Portofolio
Menurut Athhoni J. Nitko (1996) adan enam menggunaan sebuah sistem portofolio yaitu mengidentifikasi tujuan dan focus portofolio, megidentifikasi isi materi umum yang akan dinilai, mengidentifikasikan perorganisasian portofolio, menggunakan portofolio dalam praktik, evaluasi pelaksanaan portofolio dan evaluasi portofoliosecara umum.
I.       Bahab-bahan Penilaian Prortofolio
Penghargaan yang diperoleh peserta didik, hasil pekerja peserta didik, catatan/laporan dariorang tua peserta didik atau teman sekelasnya, catatan pribadi peserta didik, bahab-bahab lain yang relevan, dan alat-alat audio visualvidio dan disket

Bab IX
Teknik Pengolaan Hasil Evaluasi
A.    Teknik Pengelolaan Hasil Tes
Menurut Zaenal Arifin (2006) dalam mengeola data hasil tes, ada empat langkah pokok yang harus ditempuh. Pertama, menskor, yaitu member skor pada hasil tes yang dapat dicapai oleh peserta didik. Kedua , mengubah skor mentah menjadi skor standar sesuai dengan norma tertentu. Ketiga, mengkonversikan skor standar ke dalam nilai, baik berupa angka maupun huruf. Keempat, melakukan analisis soal untuk mengetahui derajat validitas dan reliabilitas soal, tingkat kesukaran soal dan gaya pembeda.
B.     Skor Total (Total Secore)
Skor total adalah jumlah skor yang diperoleh dari seluruh bentuk soalsetelah diolah dengan rumus tebakan(guessing formula).
C.    Konversi Skor
Konvesi skor adalah proes transformasi skor mentah yang dicapai peserta didik ke dalam skor terjabar atau skor standar untuk menetapkan nilai hasil belajar yang diperoleh.
D.    Cara Memberi Skor untuk Sekala Sikap
Salah satu peinsip umum evaluasi adalah prinsip komprehensif, artinya objek evaluasi tidak hanya domain kognitif, tetapi juga afektif, dan psikomotorik. Tugas guru adalah megembangkan sikap positif dan meningkatkan minat belajar peserta didik terhadap suatu pelajaran.
E.     Cara Memberi Skor untuk Domaian Psikomoror
Dalam domain psikomotor, pada umumnya yang diukur adalah penampilan atau kinerja, untuk mengukurnya, guru dapat menggunakan tes tindakan melalui simulasi, unjuk kerja atau tes identifikasi. Salah satu instrument yang dapat digunakan adalah skala penilaian yang terentang dari sangat baik (5), baik (4), cukup baik (3), kurang baik (2), sampai dengan tidak baik (1).
F.     Pengelolaan Data Hasil Tes : PAP dan PAN
Setelah diperoleh skor stiap peserta didik, guru hendaknya tidak tergesa-gesa menentukan prestasi belajar (nilai) peserta didik yang didasarkan pada angka yang diperoleh setelah membagi skor dengan jumlah soal, karena cara tersebut dianggap kurang propesional. Pendekatan penilaian acuat patokan PAP pada umumnya digunakan untuk menfsirkan hasil tes fomatif, sedangkan penilaian acuan norma PAN digunakan untuk menfsirkan hasil tes sumatif. Namun, dalam kurikulum berbasis kompetensi dengan model penilaian berbais kelas pendekatan yang digunakan adalah PAP.

BAB X
ANALISIS KUALITAS TES DAN BUTIRAN SOAL
A.    Validitas
Validitas menunjukan suatu derajat, ada yang sempurna, ada yang sedang, dan ada yang rendah. Selanjutnya validitas selalu dihubungkan dengan suatu putusan atau tujuan yang spesifik. Dalam literature modern tentang evaluasi, banyak dikemukakan tentang jenis-jenis validitas, antara lain validitas permukaan, validitas isi, validitas empiris, dan validitas konstruk dan vailiditas factor.
B.     Reliabilitas
Relibilitas dalah tingkat atau derajat konsistensi dari suatu instrument. Relibilitas tes berkenaan dengan petanyaan. Menurut perhitungan product moment dari pearson, ada tiga macam relibilitas, yaitu kefisien stabilitas, koefisien ekuivalen, dan koefisien konsistensi internsl.
C.    Kepraktisan
Kepraktisan meruoakan syarat satu tes standar. Kepraktisan mengandung arti kemudahan suatu tes, baik dalam mempersiapkan, menggunakan, mengolah, dan menafsirkan maupun mengadministrsikannya. Dimyati dan Mujiono (1994) ecaluasi meliputi kemudahan mengadministrasi, waktu yang disediakan untuk melancarkan evaluasi, kemudahan menskor,kemudahan interpretasi dan aplikasi, tersedianya bentuk instrument evaluasi yang ekuivalen atau sebanding.
D.    Analisis Kualitas Butiran Soal
Tingkat kesukaran soal, perhitungan tingkatan kesukaran soal adalah pengukuran seberapa besar derajat kesukaran suatu soal. Jika suatu soal memiliki tingkatan tingkatan kesukaran seimbang, maka dapat dikatakan bahwa soal tersebut baik. Suatu soal tes hendaknya tidak terlalu sukar dan tidak pula terlalu mudah. Menghitung tingkatat kesukaran soal bentuk objektif dan uraian.
Daya pembeda, penghitungan daya pembeda adalah pengukuran sejauh mana suatu butir soal mampu membedakan peserta didik yang belum/kurang menguasai kompetensi berdasarkan criteria tertentu. Semakain tinggi daya pembeda suatu butiran soal, semakin mampu butiran soal tersebut membedakan antara peserta didik yang menguasai dan tidak menguasai kompetensi.
E.     Analiasi Pengoceh
Pada soal bentuk pilihan ganda ada alternative jawaban (opsi) yang merupakan pengoceh. Butiran soal yang baik, pengocehnya akan dipilih secara merata oleh peserta didik yang menjawab salah. Sebaliknya, butirsoal yang kurang baik, pengocehnya akan dipilih secara tidak merata. Pengoceh dianggap baik bila jumlahnya peserta didik yang memilih pengoceh itu sama atau mendekati jumlah ideal. Indek pengoceh dihitung dengn rumus:
IP =Keterangan:
IP = indeks pengoceh
P = jumlah peserta didik yang memilih pengoceh
N = jumlah peserta didik yang ikut tes
B = jumlah peserta didik yang menjawab benar pada setiap soal
n = jumlah alternative jawaban (opsi)
1 = bilangan tetap
F.     Analisis Homogen Soal
Homogeny tidaknya butiran soal diketahui dengan hitungan koefisien korelasi antara skor tiap soal den skor tota.penghitunganya dikakukan sebanyak butiran soal dalam tes bersangkutan. Salah satu teknik korelasi yang dapat digunakan adalah korelasi produc-moment atau korelasi point biserial.
G.    Efektivitas Fungsi Opsi
Setelah tingkat kesukaran soal, daya pembeda, homogenitas, dan analisis pengoceh dihitung, selanjutnya perlu diketahui pula apakah suatu opsi dari setiap soal berfungsi secara efektif atau tidak. Dapat digunakan langkah-langkah berikut, menentukan jumlah peserta didik, menetukan jumlah sampel, baik untuk kelompokatas maupun kelmpok bawah, membuat table penguji efektivitas opsi, menghitung jumlah alternative jawaban yang dipilih peserta didik, menentukan efektivitas fungsi opsi.






BAB XI
PEMANFAATAN HASIL EVALUASI DAN REFLEKSI PELAKSANAAN EVALUASI

A.    Pengertiannya Memanfaatkan Hasil Evaluasi
Salah satu manfaat hasil evaluasi adalah untuk memberikan umpan balik kepada semua pihak yang bersangkutan atau yang terlibat dalam pembelajaran, baik secara langsung maupu tidak langsung. Crooks (2001) menyimpulkan agar umpan balik dapat bermanfaat untuk memotivasikan peserta didik, maka harus difokuskan pada kualitas pekerjaan peserta didik dan bukan membandingkannya dengan hasil pekerjaan peserta didik lain, cara-cara yang spesifik sehingga pekerjaan peserta didik dapat ditingkatkan, peningkatan pekerjaan peserta didik yang harus dibandingkan dengan pekerjaan sebelunya.
B.     Manfaat Hasil Evaluasi
Bagi peserta didik, membengkitkan minat dan motivasi belajar, membentuk sikap yang positif terhadap belajar dan pembelajaran, membentu pemahaman peserta didik menjadi lebih baik.
Bagi guru, promosi peserta didik seperti kenaikan kelas atau kelulusan, mendiagnosisi peserta didik yang memeiliki kelemahan atau kekurangan, menentukan pengelompokan dan penetapan peserta didik berdasarkan prestasi masing-masing,.
Bagi orang tua, mengetahui kemajuan peserta didik, membingbing kegiatan belajar pererta didikdirumah, menentukan tidak lanjut pendidikan yang sesuai dengan kemampuan anaknya.
Bagi administrator, menentukan penetapan peserta didik, menentukan kenaikan kelas, pengelompokan peserta didik disekolah meningkat terbatasnya fasilitas pendidikan yang tersedia serta indikasi kemajuan peserta didik pada waktu mendatang.
C.    Refleksi Pelaksanan Evaluasi
Dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran sering ditemukan berbagai kekurangan atau kelemahan, implikasinya adalah guru harus melalukan melakukan evaluasi pembelajaran, baik dalam dimensi proses maupun hasil belajar. Setelah mengikuti evaluasi pembelajaran peserta didik akan menghadapi dua alternatifkeputusan berhaisil atau tidak berhasil.
D.    Keberhasilan Pembelajaran
Keberhasilan pembelajaran banyak dipengaruhi berbagai factor. Salah satunya adalah factor guru dapat melaksanakan pembelajaran.untukitu, dalam melaksanakan pembelajaran, guru harus berpijak pada prinsip-prinsip tertentu. Dimyati dan Mudjiono (1994) mengenukakan ada tujuh prinsip pembelajaran yaitu, perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung/berpengalaman, pengulangan, tantangan, balikan dan penguatan, dan perbedaan individual.
E.     Evaluasi Diri TerhadapProses Pembelajaran
Evaluasi diri adalah evaluasi yang dilakukan oleh dan terhadap diri sendiri. Sebagai guru, kita harus membiasakan melakukan evaluasi diri. Hal ini penting untuk memperbaiki kualitas pembelajaran yang telah dilakukan. Jangan sampaioranglain ynag mengevaluasi kinerja kita dalam proses pembalajaran. Melalui evaluasi diri guru dapat mengetahui, memehami, memberikan makna terhadap proses dan hasil pembelajarna yang pada gilirannya dapat menentukan langkah menjadi lebih baik. Dalam melakukan evaluasi diri, guru tentunya memerlukan berbagai informasi, seperti hasil penilaian proses, hasil belajar peserta didik, hasil observasi dan wawancara.untuk melengkapi hasil evaluasi diri, kita bisa meminta bantuan peserta didik melakukan pengamatan terhadap pembelajaran yang diikuti.
F.     Factor-faktor Penyebab Kegagalan dan Pendukung Keberhasilan dalam Pembelajaran
Salah satu jenis penilaia yang dapat dilakukan guru dalam pembelajaran adalah penilian diagnosis, yaitu penilaian yang berfungi mengidentifikasi factor-faktor penyebab kegagalan atau pendukung keberhasilan dalam pembelajaran. Guru dapat melakukan perbaikn-perbaik dalam meningkatkan kualitas pembelajran.
G.    Mengoptimalkan Proses dan Hasil Belajar
Untuk mengoptimalkan proses dan hasil belajar hendaknya kita berpijak pada hasil identifikasi factor-faktor penyebab kegagalan dan factor-faktor mendukung kebrhasilan. Berdasakan hasil identifikasi ini kemudian kita mencari altrnatif itu kita pilih mana yang mungkin dilaksanakan dilihat dari beberapa factor, seperti kesiapan guru, kesiapan peserta didik, sarana dan prasarana, dan sebagainya. Mengoptimalkan proses dan hasil belajar berarti melakukan berbagai upaya perbaika agar proses belajar dapat berjalan dengan epektif dan hasil belajar dapa diperoleh secara optimal.
H.    Pembelajaran Remedial
Salah satu komponen penting dalam sistem pembelajaran adalah materi. Banyak hasil penelitian menunjukan lemahnya penguasan peserta didik terhadap materipembelajaran. Padahal dalam silabus, materi pembelajaran sudah diatur dengan demikian rupa, baik ruang lingkup, urutan materi maupun penetapan materi. Tujuan pembeajarabn remedial adalh membentu dan menyembyhkan pserta didik yang mengalami kesulitan belajar memalui perlakuan pembelajaran.